Category Archives: Suwarnakarta

Berita dari Institut Suwarnakarta / News from Suwarnakarta Institute

Eri Septio Appointed AIM Secretary General

Flag of Jomblonisme, home state of Eri Septio.

AIMNN, 02/05 – Jomblonisme President, Eri Septio, officially appointed as the Secretary General of the Association of Indonesian Micronations (AIM) on the General Assembly meeting session took place today (02/05). Eri Septio received unanimous support from member states on the vote.

Eri Septio was proposed by the new AIM Chairman, Harjakarta, to replace Nabil Ihsan that had his office term expired on April 2020. Prior to the vote, member states expressed their support for the nomination, as they believe Eri could satisfy the demands of the duty.

After the vote, member states in succession congratulates Eri appointment. Responding on numerous support for his nomination, Eri commented, “Thank you to Harjakarta for congratulate and motivate me, and to Nabil Ihsan for his encouragement to his successor”.

Eri will still hold a private meeting with his predecessor, Nabil Ihsan, on these weeks. Harjakartan Prince, Tommy Narisworo also reiterates the necessity to continue learning from his predecessor so he can perform his job better.

On upcoming week, Eri are expected to appoint department heads for the AIM Secretariat, to support his job as the secretary general. Calls to reappoint Nabil Ihsan for secretarial department office was also made by member states.

AIM Secretary General is the highest leadership reserved to an individual on the organisation. Secretary general duty is to perform secretarial works of AIM, and also to support the chairman. Secretary general headed the Secretariat, itself comprised of public relations, archives, and correspondency departments.

Advertisement

Eri Septio Ditunjuk Sebagai Sekretaris Jenderal AIM

Bendera Jomblonisme, negara asal Eri Septio.

AIMNN, 02/05 – Presiden Jomblonisme, Eri Septio telah resmi menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Negara Mikro se-Indonesia (AIM) dalam sidang Majelis Umum AIM hari ini (02/05). Pada sidang tersebut, Eri Septio mendapatkan dukungan bulat dari seluruh negara anggota untuk menjabat sebagai sekretaris jenderal.

Eri Septio sebelumnya diusulkan oleh Ketua AIM, Harkajarta untuk menggantikan Nabil Ihsan sebagai sekretaris jenderal yang masa jabatnya habis pada April kemarin. Usulan tersebut mendapat sambutan luas, terutama karena Eri dipandang sebagai orang yang tepat untuk menduduki jabatan sekretaris jenderal.

Setelah Majelis Umum meluluskan pengusulan Eri, ucapan selamat kepada Eri berlimpah di dalam majelis. Membalas ucapan selamat dari para delegasi, Eri menjawab “Terima kasih khususnya kepada Harjakarta yang suidah memberi selamat dan nasihat, serta kepada Nabil Ihsan yang sudah memberi semangat kepada penerusnya”.

Pascapelantikan, Eri masih akan melakukan beberpa pertemuan pribadi dengan sekretaris jenderal sebelumnya, Nabil Ihsan. Pangeran Harjakarta, Tommy Narisworo mewakili negara ketua juga menekankan akan perlunya Eri untuk terus belajar demi dapat bekerja dengan lebih baik lagi.

Dalam sepekan ini, diperkirakan Eri akan mengumumkan nama-nama kepada departemen Sekretariat yang akan membantunya menjalankan tugas sekretaris jenderal. Terlebih setelah beberapa negara anggota meminta supaya Nabil Ihsan tetap diperbantukan dalam kesekretariatan.

Sekretaris Jenderal AIM adalah posisi pejabat AIM yang ditempati perorangan dan bertugas menjalankan kegiatan kesekretariatan organisasi. Sekretaris jenderal mengepalai Sekretariat Umum yang tersusun dari departemen hubungan masyarakat, pengarsipan, serta korespondensi.

Harjakarta Becomes AIM Chairman

New Chair of AIM, Harjakarta.

AIMNN, 01/05 – Praja Harjakarta officially becomes the new Chair of the Association of Indonesian Micronations (AIM), replacing Falalia that had its term of office expired on last April. The handover ceremony took place on the General Assembly session today (01/05).

Harjakarta is the next in line after Falalia on the rotation system of AIM Chairmanship, designated alphabetically according to full member states list.

Harjakarta followed Falalia as the new chairman under the new office term period as amendment of the Charter passed on April 2020. The current term see the office term reduced from 6 months to 4 months.

On accepting his country new responsibility to the organisation, Harjakartan Great Prince Tommy Narisworo said, “My gratitude is for Falalia. Harjakarta will accept the mandate and continue our progress, but I must remind all that I cannot do it alone. Let us build our AIM together!”.

New Secretary General Announced

Nabil Ihsan’ term as secretary general will also end following the termination of Falalia. Beforehand, he already announced to the community that he wishes to not to be reappointed as secretary general for another term, as he hopes for a regeneration process would be started by the new secretary general.

To honour Nabil’s wishes to not to reappoint him, Harjakarta has proposed Eri Septio of Jomblonisme for the new secretary general replacing Nabil. A vote to confirm the new secretary general is planned to take place tomorrow (02/05).

Secretary general is appointed by the chairman, and its office term also mirrored chairman office term. AIM regulation requires new chairman to confirm the secretary general, whether by reappointing the secretary general of the previous term, or to appoint the new individual.

Harjakarta Resmi Menjabat Ketua AIM

Bendera Harjakarta, Ketua baru AIM.

AIMNN, 01/05 – Praja Harjakarta telah resmi menjadi Ketua Asosiasi Negara Mikro se-Indonesia (AIM), setelah masa jabat ketua sebelumnya, Falalia, habis pada akhir bulan April kemarin. Serah terima pejabat ketua baru dilakukan pada sidang Majelis Umum hari ini (01/05).

Harjakarta merupakan negara anggota setelah Falalia pada sistem pergiliran negara ketua AIM yang mengurutkan giliran ketua bagi negara mikro anggota penuh secara afabetis.

Harjakarta mengikuti falalia sebagai negara ketua di bawah sistem waktu masa jabat baru yang ditetapkan pada amendemen AD-ART yang diresmikan April lalu, yang dikurangi dari 6 bulan menjadi 4 bulan.

Saat menerima giliran negara ketua selanjutnya, Pangeran Agung Harjakarta Tommy Narisworo menyatakan “Terima kasih Falalia, Harjakarta akan menerima mandat dan meneruskan membangun AIM, tapi tidak bisa tanpa bantuan semuanya. Mari membangun AIM bersama!”.

Sekretaris Jenderal Baru Diumumkan

Masa jabat Sekretaris Jenderal AIM Nabil Ihsan juga selesai berikutan dengan selesainya masa jabat Falalia. Sebelumnya, ia menyatakan tidak bersedia dipilih kembali sebagai sekretaris jenderal demi memulai regenerasi di AIM.

Negara Ketua Harjakarta mengusulkan Eri Septio dari Jomblonisme sebagai sekretaris jenderal baru, menggantikan Nabil Ihsan yang tidak bersedia ditunjuk kembali. Pemungutan suara terhadap usulan sekretaris jenderal baru akan dilaksanakan besok (02/05).

Jabatan sekretaris jenderal memiliki masa jabat sewaktu dengan negara ketua, sehingga negara ketua baru harus mengumumkan sekretaris jenderal untuk menjabat bersamanya.

Flashback: A Discussion on LIR Union

An interesting discussion about LIR Union was published by The Indokistan Times on the third week of November 2012. The discussion was between Indokistani Third Republic politicians, Nabil Ihsan and Tian Abdurrahman. That interesting discussion can be read below:

Controversy on Indokistani membership in LIR Union has resulted in fierce debate among government officials, especially after those talks produced nothing on how the government should respond.

Speaker of the Parliament Tian Abdurrahman commented that as consequences of the “free” principle on Indokistani foreign policy of “free and active”, Indokistan should not be engaged in any alliance or diplomatic pact. He also claimed that if Indokistan insists in continuing its membership in LIR Union, the country has violated its own principles.

Opposing argument from the Chancellor Nabil Ihsan declares that the definition of “free” are “to freely decides on its own foreign policy without foreign intervention”, thus Indokistani membership in LIR union does not negate the principle. He also said that if Indokistan should not be bound with any alliance or diplomatic pact, Indokistan could no longer engaged in diplomacy, nor joining micronational organisations, or to sign a treaty with other micronations.

Do you have another argument for or against Indokistani membership in LIR Union? Voiced your opinion right now!

(The Indokistan Times, November 2012. Translated into English.)

Background

LIR Union (2012-2013)

LIR Union was an intermicronational organisation that consisted of three member states: Indokistan, Los Bay Petros, and Raflesinesia. The founding charter of LIR Union was signed in the only intermicronational conference in Indonesian sector that was took place in 12 August 2012 in Kranji, Los Bay Petros.

The discussion occurred in the Indokistani Third Republic era (October 2012 – January 2013) between then-Chancellor Nabil Ihsan and Parliament Speaker Tian Abdurrahman. At that time, Tian’s influence were on its height, especially after his effort to reform the country as a unitary state went successful few weeks prior to the discussion.

Tian’s statement was seen as a brave act, because of his call to replace the status-quo existed prior to his entry to Indokistan (LIR Union was founded in August 2012, Tian rejoined Indokistan in September 2012). His statement also placed him in a position to challenge the very person that signed the establishment declaration of the LIR Union.

It was already known among Indokistani public that Tian often held differing opinion against other Indokistani figures. For instance, Tian also caused shock in the country afterwards, declaring the establishment of the unitary “Republic of Indokistan” in October 2013. The stunt was done despite Tian himself ratified the referendum results that finalizes Indokistani federal system in June 2013.

On the bright side, this discussion exhibited Indokistani freedom and unity, despite ideological and thought differences. We can also see Tian’s confidence to express his thought, no matter how others will respond, and take it as an example to our daily life.

In the end, LIR Union was abandoned after Raflesinesian unification to Indokistan in February 2013, resulting in only two members remaining. Further proposal of Rayhan Haikal to convert the organisation as a special treaty between both countries also received only marginal support.

/Your personal copy from

Lawas: Perbincangan tentang LIR Union

Sebuah perbincangan menarik tentang LIR Union muncul pada edisi The Indokistan Times pekan ketiga bulan November 2012. Rupanya perbincangan tersebut melibatkan dua tokoh penting Republik Indokistan Ketiga, yaitu Nabil Ihsan dan Tian Abdurrahman. Tentu menarik untuk disimak bagaimana percakapan tersebut, yang dapat Anda tengok di bawah ini:

Kontroversi keanggotaan Indokistan di [LIR Union] semakin banyak diperdebatkan di pemerintahan, terutama karena seluruh [pem]bicaraan berakhir dengan kebuntuan atas [tindakan] yang perlu diambil.

Ketua Parlemen Tian Dacoen menyatakan bahwa untuk melaksanakan ide “bebas” dalam asas politik Indokistan […] “bebas dan aktif”, Indokistan tidak boleh terikat pada pakta persekutuan apapun, sehingga jika Indokistan masih melanjutkan keanggotaan di LIR Union, Ia menganggap bahwa Indokistan sudah melanggar ide “bebas” tersebut.

Argumen lain datang dari Perdana Menteri […] Nabil Ihsan, [yang] menyatakan bahwa definisi “bebas” adalah “bebas dalam menentukan jalan yang akan ditempuhnya sendiri tanpa tekanan negara lain”, dan bahwa pendirian LIR Union tidaklah melanggar hakikat dari “bebas” itu sendiri. Ia juga menerangkan kalau Indokistan tidak boleh terikat pada pakta persekutuan apapun, Indokistan tidak bisa lagi membuka hubungan formal dengan negara lain, mendirikan dan bergabung dalam organisasi intermikronasional, dan menandatangani traktat dengan negara lain.

[Apakah] Anda memiliki argumen [lain] yang mendukung atau menolak keanggotaan Indokistan di LIR Union? Suarakan pendapat anda sekarang juga!

(The Indokistan Times, November 2012. Dengan suntingan.)

Konteks:

Logo LIR Union (2012-2013)

LIR Union adalah sebuah organisasi intermikronasional yang beranggotakan Indokistan, Los Bay Petros, dan Raflesinesia. Deklarasi pendirian LIR Union ditandatangani pada satu-satunya konferensi mikronasional di Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2012 di Kranji, Los Bay Petros.

Perbincangan tersebut muncul pada era Republik Indokistan Ketiga (Oktober 2012 – Januari 2013) antara Kanselir (tertulis “Perdana Menteri”) Nabil Ihsan dan Ketua Parlemen Tian Abdurrahman. Pada saat itu, pengaruh Tian yang merupakan pemimpin Bobodolands di Indokistan sedang semakin meningkat, terutama setelah perjuangannya mengembalikan sistem negara kesatuan ke Indokistan berhasil.

Pernyataan Tian tersebut pada saat itu dianggap sebagai suatu tindakan yang amat berani, karena pendapatnya untuk mengusulkan perubahan status quo yang telah ada sebelum ia bergabung ke Indokistan (LIR Union berdiri pada Agustus 2012, Bobodolands baru bergabung ke Indokistan pada September 2012), terlebih berhadapan langsung dengan pendiri yang menandatangani langsung deklarasi pendirian LIR Union.

Sudah lumrah memang pendirian Tian Abdurrahman terkadang berseberangan dengan tokoh Indokistan lain saat Bobodolands menjadi bagian Indokistan sampai Januari 2014. Satu peristiwa besar turut terjadi kemudian, ketika pada Oktober 2013 ia mendirikan negara kesatuan “Republik Indokistan” sebagai protes atas sistem federal Indokistan yang telah disepakati pada referendum di bulan Juni 2013.

Namun di sisi lain, inilah bukti akan keberagaman pemikiran di Indokistan, yang masih tetap bersatu walaupun pemimpinnya memiliki perbedaan pandangan. Kemudian, satu sikapnya yang dapat kita teladani saat ini adalah keberaniannya menyatakan pendapat, mau apapun itu.

Pada akhirnya toh, setelah penggabungan Raflesinesia ke Indokistan pada Februari 2013, status LIR Union sebagai organisasi mikronasional menjadi tidak relevan, karena anggotanya hanya tinggal dua. Usulan Rayhan Haikal untuk mengubah LIR Union menjadi traktat khusus juga tidak menerima sambutan apapun dari pemimpin kedua negara.

/Sari wacana,

AIM Flag, Emblem Made Official

AIM official flag.

Association of Indonesian Micronations (AIM) General Assembly has set the official symbol of the organisation on the general assembly sessions took place in 3 April until 4 April 2020. The symbols received official status are the organisation flag and anthem.

On the 3 April session, the general assembly has voted for the adoption of “Light of Southeast Asia” as the organisation anthem, by 6-1 votes.

The song was made by Theodorus Diaz of Excellent in 2015, and the lyrics was made by Nabil Ihsan of Suwarnakarta Institute last month. The song was already proposed in 2015, yet received only marginal support to make it official.

Nusantara united in a noble bond

Brilliant countries hope of the world

May our joyful dream comes true

Light of Southeast Asia

(Translation of the first stanza of the “Light of Southeast Asia”)

Antoher session took place yesterday (04/04) finalizes the official flag of AIM afrter lengthy discussion due to diverse ideas proposed by member states. The final vote tally on the flag are in 6-3.

The official flag of AIM consists of white background with AIM logo in the middle of the flag. Defeated proposal on the flag maintains the same design, yet with blue background. The general assembly also agreed on 2:3 flag proportion.

After the recognition, another proposal is to made the symbols constitutional by adding it to the Charter. The proposal currently remain under consideration by the general assembly.

Bendera dan Lagu AIM Diresmikan

Bendera resmi AIM.

Majelis Umum Asosiasi Negara Mikro se-Indonesia (AIM) telah menetapkan simbol-simbol resmi organisasi pada rapat yang berlangsung selumbari (03/04) sampai dengan kemarin (04/04). Simbol-simbol yang diresmikan dalam dua hari rapat tersebut adalah lagu organisasi dan bendera organisasi.

Pada rapat selumbari (03/04), Majelis umum menyetujui “Cahaya Asia Tenggara” sebagai lagu organisasi, yang disetujui dengan hasil voting 6-1.

Lagu tersebut dibuat oleh Theodorus Diaz dari Excellent pada tahun 2015, sementara liriknya dibuat oleh Nabil Ihsan dari Institut Suwarnakarta pada bulan lalu. Lagu ini telah diusulkan sejak tahun 2015, namun usulan peresmiannya tidak kunjung dilanjutkan.

Nusantara bersatu dalam ikatan mulia

Negeri cemerlang harapan persada

Jadilah nyata satu mimpi nan bahagia

Cahaya Asia Tenggara

(Stanza pertama “Cahaya Asia Tenggara”)

Rapat kemarin (04/04) pada akhirnya berhasil menetapkan bendera resmi AIM setelah diskusi panjang karena beragamnya ide yang ditawarkan oleh anggota. Bendera AIM terpilih disetujui dengan jumlah voting 6-3.

Bendera AIM terpilih memiliki warna dasar putih, dengan logo AIM di tengah bendera. Usulan lainnnya memiliki desain yang sama, namun berwarna dasar biru. Konstruksi bendera pun juga telah disepakati dengan proporsi 2:3.

Setelah resminya simbol AIM, muncul pula usulan untuk mencantumkan pasal tentang simbol AIM di AD-ART organisasi. Usulan tersebut kini sedang dalam pertimbangan Majelis Umum.