Category Archives: Peristiwa | Events

Inmerado Dissolved, Former Territories Divided

Inmerado Dissolution Declaration

22/05, AIMNN – Republic of Inmerado, one of the observers of the Association of Indonesian Micronations (AIM) declares their dissolution yesterday (21/05), in force from 2.15 PM (UTC +7). Inmerado dissolution declaration was received by AIM General Assembly at 12.00 PM.

On the declaration, Inmerado President Joshua S declared that he struggling to continue Inmerado activities after its citizens departed the country, resulting in what he dubbed as “total destruction” on the country. Joshua also expresses his apology to fellow micronations that Imnerado should be dissolved despite friendly relations built with other micronations.

Despite no longer rules a micronation, Joshua reiterates his commitment to participating in micronational activities inside the Indonesian sector. Joshua will also join one of the Stradan micronation as citizens. 

After the enforcement of the dissolution declaration, Inmerado observer membership status was immediately revoked by AIM General Assembly.

Former Territories to be Divided Among Stradan Micronations

On the same declaration, Joshua also declared that former Inmerado territories would be granted to Stradan micronations. 

Joshua allows Neuborrnia-Merientalia to establish control in the West Inmerado region, while Ruslandia will receive the East Inmerado region.

Division of territories will allow Joshua to join one of the new micronations currently controls the former Inmerado territory, and also to participate in micronational activities.

Inmerado Membubarkan Diri, Bekas Daerah Dipecah

Pernyataan Pembubaran Inmerado

22/05, AIMNN – Republik Inmerado, salah satu negara pengamat Asosiasi Negara Mikro se-Indonesia (AIM), menyatakan pembubaran diri kemarin (21/05) pukul 14.15 WIB (15.15 WITA). Pernyataan pembubaran Inmerado diterima Majelis Umum AIM sebelumnya, pada pukul 12.00 WIB (13.00 WITA).

Dalam pernyataannya, Presiden Inmerado Joshua S menyatakan bahwa ia kesulitan untuk melanjutkan Inmerado yang telah ditinggalkan anggotanya sehingga menyebabkan “kehancuran total”. Ia juga meminta maaf kepada negara-negara mikro lain yang harus berpisah dengan Inmerado walau telah menjalin hubungan baik.

Walaupun tidak lagi menjadi pemimpin negara mikro, Joshua menyatakan akan tetap berpartisipasi dalam komunitas mikronasional Indonesia. Joshua akan bergabung ke salah satu negara di Gugus Strada.

Status keanggotaan pengamat Inmerado di AIM juga langsung dicabut setelah pernyataan pembubaran negara tersebut berlaku.

Bekas Daerah Diserahkan Ke Negeri-negeri Strada

Dalam pernyataan yang sama, Joshua menyatakan bahwa bekas daerah Inmerado akan diserahkan kepada negara-negara di gugus Strada.

Joshua berkenan untuk menyerahkan Inmerado Barat kepada Neuborrnia-Merientalia, sementara Inmerado Timur akan diserahkan kepada Ruslandia. 

Penyerahan daerah ini senada dengan niat Joshua untuk tetap melanjutkan aktivitas mikronasionalnya, supaya tetap dapat ikut serta di negara-negara Strada.

Falalian Consensus Supports Reform

Bendera Falalia

22/05, AIMNN – Falalian authority has announced the result of the national meeting took place from 15 April until 1 May last month. The meeting was led by King Muhammad I and discussing the future of Falalia. 

After the conclusion of the meeting on 1 May, King Muhammad I announced that reform would take place immediately. Despite on that, Falalian authority just yesterday (20/05) published the complete text of the meeting consensus.

Falalian citizens attended the convention agreed for a reform, which includes changes in political system, national symbols, and national territories. 

“A Thorough Reform”

Politically, Falalia would be converted as an absolute monarchy, with the newly-founded monarch council and advisory council that would support the Falalian King in the governance. Furthermore, the Prime Minister office would be abolished; and the Crown Prince and the King Mother would preside over the national government to support the King.

A consensus to draft a new constitution was also agreed, beside regulations for political parties, and also the declaration of Falalian new official name “Great Kingdom of Falalia”.

Delegates of the national meeting also agreed to replace the national flag, national anthems and patriotic songs, and the national emblem. National heroes were also agreed upon, with the date of Tian Abdurrahman’s (1994-2019)  passing to be recognised as “Heroes Day”.

The meeting also saw the end of Falalian sovereignty over Nakma region, located far from the national capital Richland; and the addition of Sitoradja Kingdom to Falalian domain.

Falalian King Muhammad I have set the deadline for the implementation of the reform. He has directed the deadline for reform announcement to be made before 1 June 2020, and the drafting process of the constitution to take place 3 months after the conclusion of the national meeting.

 

 

Rapat Nasional Falalia Mendorong Reformasi

Bendera Falalia

22/05, AIMNN – Pemerintah Falalia telah mengumumkan hasil Rapat Nasional yang telah dilaksanakan pada 15 April hingga 1 Mei lalu. Rapat tersebut dipimpin oleh Raja Muhammad I dan membahas mengenai rencana reformasi di Falalia.

Setelah penutupan rapat nasional pada 1 Mei lalu, Raja Muhammad I mengumumkan bahwa reformasi akan dilaksanakan di Falalia. Namun, pemerintah Falalia baru menerbitkan rangkuman hasil rapat tersebut pada Rabu kemarin (20/05), dengan Majelis Umum Asosiasi Negara Mikro se-Indonesia (AIM) menjadi salah satu penerima laporan.

Peserta rapat nasional Falalia setuju untuk melaksanakan reformasi di berbagai bidang, termasuk di antaranya adalah pada sistem pemerintahan, simbol, serta teritori negara.

Reformasi di semua lini negara

Pada bidang pemerintahan, Falalia akan ditetapkan sebagai negara monarki absolut, dengan dewan monarki dan dewan pertimbangan agung sebagai institusi baru yang akan membantu Raja Falalia nantinya. Selain itu, jabatan perdana menteri akan dihapuskan, dan Raja akan mengambil alih tugas kepala pemerintahan. Putra Mahkota dan Ibu Suri juga diberikan kuasa sebagai pembantu utama Raja.

Rapat nasional juga menyerukan penyusunan konstitusi baru, menentukan partai politik yang boleh beraktivitas di Falalia, serta pengubahan nama negara menjadi “Kerajaan Falalia Raya”.

Peserta rapat nasional juga setuju untuk mengubah bendera nasional, lagu kebangsaan dan beberapa lagu nasional, serta lambang negara. Disepakati pula beberapa pahlawan nasional yang diakui Falalia, termasuk di antaranya mendiang Tian Abdurrahman (1994-2019), yang hari wafatnya pada 9 September diresmikan sebagai Hari Pahlawan.

Rapat nasional juga menyepakati untuk melepaskan daerah Nakma yang terletak berjauhan dari ibukota Richland, dari kedaulatan Falalia; serta memasukkan Kerajaan Sitoradja sebagai teritori Falalia.

Raja Falalia Muhammad I telah memberikan tenggat untuk pelaksanaan seluruh poin reformasi yang telah disepakati dalam rapat nasional. Di antaranya, ia memerintahkan pengumuman hasil reformasi paling lambat pada 1 Juni 2020, serta pengerjaan konstitusi baru paling lambat 3 bulan sejak berakhirnya rapat nasional.

 

 

Pejaten Dissolved, Leaders Promised New Micronational Project

“This is the end. We express our gratitude for your participation and support on the last three years. Good bye”

AIMNN (04/04) – Pejaten Republic has declared its disbandment today afternoon (04/04). Notification on the disbandment was sent by leader Aaron Penyami to the General Assembly of the Association of Indonesian Micronations (AIM) yesterday (03/04).

On the dissolution declaration, Aaron declared that inactivity is the main reason of his decision to disband Pejaten. Aaron has long complained on the decline of Pejaten activities and citizens’ participation in national politics

Aaron also promised that he will form a new micronation to succeed the Pejaten Republic. He said that the preparation period will take place for several months, while June-August 2020 is the most probable time an establishment ceremony of the new micronation will take place.

Former Pejatenian identities and characteristics would not be used by the new nation project, exception on the historical artefacts, cultural system, demography, and language that would be preserved.

“Former Pejaten citizens that wishes to participate on the new nation project must register themselves,” Aaron concluded.

AIM Farewell with Pejaten

As the first community to receives news on Pejaten dissolution, AIM must once more bid farewell with one of its member state.

Excellent leader Theodorus Diaz expressed his gratitude to Pejaten on their contributions to the organisation, while Jomblonisme president Eri Septio wishes for the success of the transition as Aaron has planned.

“How sad to see Pejaten dissolved. We bid a good luck for ex-Pejaten citizens in pursuing their next endeavour,” wrote William Timothy of St. John during his farewell with Pejaten.

Pejaten membership status in AIM has also been revoked after the resolution on the revocation was passed during an emergency session of the General Assembly yesterday (03/04). Despite on that, Aaron still allowed to attend General Assembly sessions. A possibility to acccelerate Aaron’s new country membership application after its establishment is also in consideration.

Pejaten Menyatakan Pembubaran Diri

AIMNN (04/04) – Pemerintah Republik Pejaten telah membubarkan diri pada siang hari ini (04/04). Pemberitahuan pembubaran telah dikirim oleh pemimpin Pejaten Aaron Penyami kepada Majelis Umum Asosiasi Negara Mikro se-Indonesia (AIM) kemarin (03/04).

Pada surat tersebut, Aaron menyatakan bahwa ketidakaktifan Pejaten menjadi alasan terbesar dalam keputusannya untuk membubarkan negara. Terlebih sudah beberapa lama Aaron melaporkan semakin turunnya kegiatan Pejaten yang disebabkan rendahnya keikutsertaan warganegara Pejaten dalam aktivitas negara.

Namun, Aaron juga menjanjikan bahwa Ia akan mendirikan negara baru setelah Republik Pejaten. Ia menyatakan bahwa masa peralihan dan persiapan menuju negara baru akan dilakukan selama beberapa bulan, dan perkiraan waktu pelaksanaan upacara deklarasi negara baru tersebut adalah antara bulan Juni-Agustus 2020.

Surat tersebut juga menerangkan bahwa seluruh identitas Pejaten tidak akan digunakan kembali pada proyek negara baru tersebut. Pengecualian pada hal ini adalah pada artefak sejarah, sistem kebudayaan, demografi, dan kebahasaan, yang akan tetap dipertahankan di negara baru.

“Warganegara Pejaten yang ingin ikut serta dalam negara baru tersebut tetap harus mendaftar ulang,” tutup Aaron.

AIM Berpisah dengan Pejaten

Sebagai kumpulan pertama yang menerima kabar pembubaran Pejaten, AIM turut dalam duka harus berpisah dengan satu negara mikro anggotanya.

Pemimpin Excellent Theodorus Diaz menyatakan terima kasihnya kepada Pejaten atas sumbangsih dalam organisasi, sementar pemimpin Jomblonisme Eri Septio mengharapkan kelancaran transisi menuju negara baru sebagaimana direncanakan Aaron.

“Sangat sedih melihat Pejaten dibubarkan. Kami ucapkan semoga sukses dan beruntung untuk semua mantan WN Pejaten dalam mengikuti jalur mereka sendiri secara mandiri,” tulis William dari St. John, ketika berpamitan dengan Pejaten.

Keanggotaan Pejaten dalam AIM juga telah resmi dicabut setelah resolusi pencabutan keanggotaan negara tersebut diluluskan dalam diskusi darurat pada Rapat Umum kemarin (03/04). Walaupun begitu, Aaron tetap diizinkan untuk menghadiri rapat Majelis Umum, pula ada kemungkinan permohonan keanggotaan negara barunya dipercepat di waktu mendatang.

Muqaddiman New Prime Minister Began First Week on Office

Muqaddiman King with the new Prime Minister, Moch Gandra.

AIMNN (02/04) – Muqaddiman new prime minister, Moch Gandra Al-Ghazali, has began his first week on office, after his inauguration in front of the King, Abdullah Allero I, yesterday (01/04).

Moch Gandra appointment as the prime minister was made after the King impeached his predecessor, Moch Nabil, on 20 March. The royal intervention was done because of Moch Nabil bad working performance that resulted in public protest, especially after an allegation of corruption that further incited protests.

After the impeachment, the King decided to govern the country on his own temporarily, while preparing the country for the successor he already appoint beforehand. Moch Gandra already received the royal decree on his appointment in 21 March, yet his inauguration was only took place in 1 April yesterday, awaiting King’s approval for the ceremony to proceed.

Moch Gandra’s term as the prime minister will be judged on how he responds on the Covid-19 spread in his home country. Recently, Muqaddiman autority had closed the state border and restrict public activities to prevent the spread of the disease. These policies are expected to be continued by Moch Gandra.

Raja Al-Muqaddimah Menunjuk Perdana Menteri Baru

Raja Al-Muqaddimah bersama Perdana Menteri baru, Moch Gandra.

AIMNN (02/04) – Perdana Menteri baru Al-Muqaddimah, Moch Gandra Al-Ghazali, telah memulai pekan pertamanya bekerja sebagai perdana menteri, setelah ia dilantik untuk posisi tersebut oleh Raja Abdullah Allero I pada Rabu kemarin (01/04).

Penunjukan Moch Gandra sebagai perdana menteri baru adalah keputusan Raja setelah memakzulkan perdana menteri sebelumnya, Moch Nabil pada 20 Maret lalu. Pemakzulan tersebut dilakukan karena kinerja Moch Nabil yang buruk, terlebih setelah adanya tuduhan tindak korupsi yang dilakukan olehnya.

Setelah pemakzulan Moch Nabil, Raja memutuskan untuk mengambil alih sementara pemerintahan negara secara langsung. Karenanya, Moch Gandra yang telah menerima titah penunjukannya sebagai perdana menteri pada 21 Maret, baru dilantik pada 1 April kemarin.

Tugas-tugas berat telah menunggu perdana menteri Moch Gandra saat ini, terutama adalah untuk melakukan penanganan penyebaran wabah Covid-19 di teritori Al-Muqaddimah. Pada akhir Maret lalu, pemerintah Al-Muqaddimah telah menutup perbatasan negara dan membatasi aktivitas umum. Kebijakan tersebut tetap akan dilanjutkan di bawah kepemimpinan Moch Gandra.

Bengkuring City Disinfected to Prevent Covid-19 Spread

Bengkuring City (28/03) – Jomblonisme government had performed disinfectant spraying on its capital Bengkuring City and its surroundings, as authority alertness on Covid-19 outbreak began to rise significantly.

Spraying of disinfectant was performed yesterday (28/03) and involved Jomblonisme citizens. Beside on government premises, spraying was also performed in citizens dwellings located in Bengkuring City. After the spraying process finished, Jomblonisme government also distributed free hand sanitizer for the citizens.

Jomblonisme government decision to disinfect the city was done following a declaration on 17 March that the government has increased its alertness on Covid-19 outbreak outside the state territory. Beside Jomblonisme, Indonesian micronations such as Falalia and Excellent, had also performed similar actions to prevent the outbreak spoil to their country.

Pemerintah Jomblonisme Melakukan Penyemprotan Disinfektan di Bengkuring City

Bengkuring City (28/03) – Dalam rangka mencegah penyebaran penyakit Covid-19, pemerintah Jomblonisme telah melakukan kegiatan penyemprotan disinfektan (penyuci hama) di ibukota Bengkuring City dan sekitarnya.

Penyemprotan disinfektan dilakukan pada Sabtu kemarin (28/03) dan melibatkan masyarakat Jomblonisme. Selain pada gedung-gedung pemerintahan, penyemprotan juga dilakukan terhadap rumah-rumah warga yang berlokasi di Bengkuring City. Setelah kegiatan penyemprotan disinfektan selesai, pemerintah Jomblonisme pula mendistribusikan cairan pencuci tangan gratis kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan satu langkah waspada yang diambil oleh pemerintah Jomblonisme. Pada 17 Maret kemarin, pemerintah Jomblonisme menyatakan telah meningkatkan kesiagaan dan kesadaran terhadap merebaknya penyakit Covid-19 di luat teritori negara. Selain Jomblonisme, pemerintah negara-negara mikro Indonesia seperti Falalia dan Excellent, juga telah meningkatkan kewaspadaan terhadap Covid-19 dengan perintah penanggulangan yang telah disebarluaskan kepada masyarakat.